0

Merindumu

Menggantikan tempatmu sebagai pahlawan keluarga kita bukan perkara mudah, ma. Mungkin tak pelu kurinci satu persatu pengorbananmu, yang selalu engkau sembunyikan ketika raga mu berkuasa.

Yang kami tahu, keluarga kita berbahagia, dengan perjalanan yang lurus lurus saja.

Satu hal yg menyayat hatiku, ketika aku membongkar benda-benda pribadimu untuk menatanya kembali dan menyimpannya dengan baik.

Sebuah buku kecil, bertuliskan tanggal dan angka-angka gula darahmu. Sering engkau bubuhkan catatan makanan apa yg sebelumnya kau makan. Aku mengingatnya, ketika engkau menyodorkan angka-angka itu padaku, terus terang aku acuh, dan aku justru takut engkau terobsesi dengan angka-angka itu, ma.

Air mataku mengalir deras tak tertahan. Kubayangkan betapa engkau bersemangat untuk kesehatanmu. Menahan sakit jarum periksa dan jarum insulin selama belasan tahun. Untuk kami, keluargamu, ma. Di benakmu, seorang ibu tidak boleh sakit, karena seluruh anggota keluarga bertumpu kepadanya.

Kami semua memang bertumpu kepada mu, ma.

Kuat, ma. Kami rindu cinta tak bersyarat itu. Kami rindu kasih tak bertepi itu. Rindu pelukmu, rindu cium mu, rindu hangat dekap mu. Rindu lembut jemarimu saat membelai kepala-kepala kami, seakan kami adalah bayi-bayi kecilmu. Kami merindu mu.

0

Never Knew I Needed

Adalah Allah yang mengatur jalan hidup kita. Tanpa kita pernah menduga, rezeki datang dari pintu yg tak disangka.

Profesiku menuntutku bersekolah lebih lama dari kebanyakan profesi lain. Aku pikir cukuplah dengan sudah menikah. Setidaknya aku merasa sudah memiliki support system yg baik, yg sustainable. Belum dikaruniai keturunan membuatku diam-diam menikmati kehidupanku secara keseluruhan.

Bersekolah lagi seperti membuat kami (sebagian dari kami) gagal dewasa. Di usia kami yg tidak muda lagi kami masih senang melakukan kegiatan kurang faedah bersama. Baru ketika di ujung tanduk, deadline tugas di depan mata, kami tergopoh – gopoh bersama menyelesaikan kewajiban akademik kami.

Walaupun ingin segera lulus, tapi sedikit banyak aku menikmati kehidupan bersekolah.

Mengetahui bahwa aku hamil mendekati tahap akhir sekolah, aku masih saja berpikir untuk menunda cuti, memaksakan diri.

Selama hamil, semakin hari aku semakin merindukan makhluk kecil di dalam perutku. Sampai pertamakali aku mendengar tangisnya, seakan Allah memberikan semesta baru untukku. Ada tujuan baru dalam hidupku.

Tiba-tiba terlintas lagu dari soundtrack sebuah film yg menurutku cukup romantis untuk bayi kecilku

“For the way you changed my plans, for being the perfect distraction, for the way you took the idea that I have of everything that I wanted to have, and made me see there was something missing…

The way you smile and how you comfort me (with your laughter). I must admit you were not a part of my book, but now if you open it up and take a look, you’re the beginning and the end of every chapter…

You’re the best thing I never knew I needed…”

(Ne-Yo, Never Knew I Needed)

0

Sweetest Thing

Mama’s been hospitalized again. Her conciousness were worsen only after hours at home that I had to take her back to the hospital.

There she laid in the ER, in her obscure sight and her misty conciousness, she strained her every nerve to reach my hand, took it close to her lips, and kissed it, the way she used to do to show her infinite love for me since I was a little.

Then I bowed and whispered to her

“You are the sweetest thing ever happen to my life, Ma”

Get well very soon..