Satu Malam yang Istimewa Bersamanya

Bukan romansa yang ingin aku ceritakan, sekali lagi bukan itu.

Kami duduk berdampingan, tanpa saling memandang. Bukan temaram yang menghiasi malam itu, tak pula terdengar musik klasik mengiringi.

Cahaya ruangan benderang, sunyi, hanya suara bip dari mesin-mesin pemantau. Kemudian hening terpecahkan oleh raungan sirine mesin-mesin itu bila ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya.

Entah bagaimana Ia membuka percakapan itu, seketika kami telah larut dalam pembicaraan serius tentang masa depan, cita-cita, tentang persiapan matang untuk meraihnya. Bukan tentang cinta, sekali lagi bukan tentang cinta.

Sesekali aku coba mengamati dirinya, sungguh tidak cocok antara pemikiran dengan perilakunya. Kuberi tahu, ia orang yang sungguh menyebalkan, ia sendiri mengakuinya. Tapi pemikirannya luas dan jauh ke depan. “Futuristik”, begitu ia menyebutnya.

Aku mengamatinya lagi, kemudian aku merasa bahagia. Bukan karena aku menyukainya, sekali lagi bukan karena itu. Aku bahagia membayangkan aku yang berada di posisi nya. Aku bahagia membayangkan dapat mengikuti jejaknya. Dalam benakku, ia lah cerminan diriku kelak, ah, indahnya.

Ia membuka penglihatanku dan merubah sudut pandangku, masih samar, tapi kurasa aku dapat meraba masa depanku. Terimakasih untuk malam yang istimewa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s