Menunggu Pagi

Aku tak dapat memejamkan mata barang sekejap,
Jantungku berdegup terlalu cepat,
Aku bisa merasakannya di antara urat leherku yang ikut naik turun.
Pikiranku berkelana, menerka pagi yang sedang menanti.

Aku senang bukan kepalang.
Kalau boleh aku memberi perumpamaan tentang perasaanku,
bagaikan murid SD menanti hari pertama bersekolah setelah libur panjang,
dengan seragam putih – putih tergantung pada pintu lemari pakaian,
sepatu baru mengkilap yang diletakkan rapi di atas kardusnya,
tampak menyembul dari dalam sepatu itu, sepasang kaus kaki putih bersih.
Di atas meja belajar terdapat tas sekolah yang juga baru,
lengkap dengan buku – buku tulis bersampul cokelat yang masih kosong,
tak ketinggalan alat – alat tulis dengan warna senada.
Kemana perginya topi merah bergambar garuda putih di tengahnya?
Ah, ini imajinasiku, Kawan.
Maafkan jika aku lupa memberitahu bahwa aku bersekolah di SD Muhammadiyah.
Aku mengenakan jilbab, alih-alih topi merah itu.
Kalian boleh menengok kembali, jilbab putihku tergantung bersama kemeja dan rok itu.

Bagaimana tidak?
Esok aku akan bersatu dengan cinta sejatiku.
Esok aku akan menjadi wanita tercantik berbalut gaun putih.
Esok Saudara dan Kerabat akan berkumpul memanjatkan doa untuk kebahagiaanku.

Suara apa itu di luar sana?
Apakah pagi sudah tiba, Kawan?
Rasanya aku baru bercerita sepatah dua patah kata denganmu.
Saudara dan Kerabat yang kuceritakan padamu sudah datang.
Mereka duduk berdampingan menundukkan kepala, khidmat sekali.
Sayup terdengar bisik doa diantara… isak mereka.
Mengapa mereka semua menangis?
Bukan, itu bukan haru. Bagiku lebih tampak sebagai tatap duka.
Berdukakah mereka?

Lihat, di sana diriku!
Di tepi ruangan dengan gaun putihku.
Tapi, gaun putih itu tampak lain dari yang sudah kusiapkan.
Hanya lurus, dengan kerut tidak teratur di antara beberapa simpul di tubuhku.
Aku tersentak. Inilah cinta sejatiku. Ia mengirim utusan-Nya untuk menjemputku.
Cinta yang aku puja, namun tak jarang aku lalaikan,
Cinta yang Penyayang, ketika aku datang mendekat,
Cinta yang Pemaaf, ketika aku meminta maaf dengan kesungguhan.

Aku sudah dapat memejamkan mata,
Jantungku tidak lagi berdegup cepat,
Bahkan aku tak lagi bisa merasakannya di antara urat leherku.
Pikiranku berkelana, menerka balasan setiap detil perbuatanku, yang sedang menanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s