Sensitif

Sensitif

Kami tidak mengenal Ibu dengan baik,
tapi kami semua tahu yang Ibu mau.
Karena kami mempelajarinya turun temurun,
dan kami akan selalu seperti itu.

Kami tahu apa yang harus kami tuliskan di kertas yang berwarna warni itu,
lembar mana yang harus kami berikan kepada Ibu,
bagian mana dari lembar-lembar tersebut yang wajib kami isi terlebih dahulu,
dan bagian mana yang haram tercoret tinta dari pena kami.
Sedikit sekali kata yang tertuju kepada kami,
Ibu hanya berbincang dengan orang – orang itu,
tapi kami tetap tahu yang Ibu inginkan.
Karena kami menyimak perbincangan Ibu dengan mereka,
dan kami akan selalu seperti itu.

Namun sering pula kami lalai, tidak memberikan apa yang Ibu inginkan.
Ketika itulah kata mengalir deras, dan semuanya tertuju pada kami.
Dengan nada teramat tinggi, kemudian menukik tajam, dan menghantam keras pikiran kami.
Ya, pikiran kami, Ibu, bukan hati kami.
Begitulah cara kami bertahan untuk tidak pernah tersinggung atas ucapan Ibu.
Tapi kami menyimpannya baik-baik dalam memori di otak kami,
agar kelak kami tidak melakukan kesalahan serupa,
agar kelak kami dapat menjadi lebih baik,
dan kami akan selalu seperti itu.

Kami selalu menyebut waktu bersama Ibu sebagai pelajaran mengasah sensitivitas.
Motto kami saat bersamamu Ibu, “Ibu memikirkan, kami memberikan”.
Mungkin agak terdengar berlebihan,
tapi begitulah Ibu benar-benar mengasah sensitivitas kami dan memunculkan inisiatif kami.
Tidak ada yang salah mengenai Ibu yang seperti itu, kami tetap bisa menikmati waktu bersama Ibu.
Bahkan kadang kami tak sabar ingin bertukar cerita tentang sikap Ibu hari ini kepada kami.

Ingatkah Ibu, sepasang suami istri yang menemui Ibu tadi pagi?
Tidakkah Ibu melihat tatap penuh harap di mata mereka? Mereka mencari pertolongan, Ibu.
Demi kesembuhan sang istri dari penyakit kanker rahim.
Mengapa Ibu terus memasang wajah masam kepada mereka? Mengapa Ibu terus berkata ketus kepada mereka?
Mereka belum tahu sifat Ibu, tidak seperti kami.
Padahal Ibu adalah orang yang mengajarkan kami tentang sensitivitas.

Mereka mendambakan senyum di wajahmu, Ibu.
Seperti senyum Ibu kepada orang-orang yang memegang ‘kartu hijau-tanda orang berduit’ itu.
Mungkin dalam benak mereka, mereka tidak ingin menemui Ibu lagi. Mereka tidak ingin kembali.
Tapi mereka tidak punya cukup uang untuk pergi ke tempat lain.
Jadi kami mohon, Ibu, berikan mereka senyumanmu. Senyum tulus dari hatimu.

*Untuk teman-teman yang sudah melewati dan sedang menjalani stase yang sedang saya jalani,
kalian pasti tahu apa dan siapa yang saya maksud,
dan bukan maksud saya menjelekkan sang Ibu,
tapi semoga kita dapat mengambil pelajaran dari cerita ini dan sesi mengasah sensitivitas bersama sang Ibu
agar kelak kita bisa menjadi dokter-dokter yang benar-benar ‘sensitif’
VIVA FK UNS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s